Aku Kikuk



Aku kikuk

Hey ada apa denganmu akhir-akhir ini, aku sedikit tidak mengerti. Kamu mulai agresif tidak seperti biasanya. Apalagi dengan status kita yg berbeda. Aku hanya mahasiswa, dan aku tidak perlu menyebutkan kamu siapa.
Dulu . . . Aku pernah sedemikian rupa merindukanmu, waktu beberapa lama tidak bertemu, tapi aku fikir toh buat apa. Aku hanyalah sesendok gula di larutan kopi. Tidak akan terlihat dan berbekas. Hanya memberi rasa manis saja kan.

Sampai pada akhirnya kamu kembali. Mengajak untuk bertemu ramai-ramai dengan teman-teman. Kala itu aku hanya berfikir biasa saja. Mungkin kamu memang sedang ingin melihat kita semua yang sudah lama tidak bercanda gurau bersama. 

Tp anehnya ini lain, aku merasakan hal lain dari kamu. Aku tau kamu berusaha memfokuskan dirimu kepada orang lain tapi aku melihatnya berbeda. Kamu berusaha menarik perhatianku. 

Kita duduk bersebelahan. 

Saat aku terlambat memasuki cafe kamu telah duduk beramai-ramai berusaha menunggu ku kan?.. 
Sedikit cemas dan berharap agar aku segera datang. Lalu ketika aku masuk semua terasa kikuk bukan?

 Wah ini setelah sekian lama kita tidak bertemu. Kamu semakin mempesona (ujarku dalam hati). 

Tapi tahukah, jika pada saat itu aku benar-benar tidak ingin memandangmu, meski kita duduk bersebelahan. Aku takut semua harapan yg aku semogakan di waktu silam akan muncul kembali melihat kelembutanmu. Aku merasa aku akan jatuh cinta lagi, tp tahukah kamu aku telah menahannya dr dulu, ketika aku masih lugu. Dan hingga sekarang aku telah menjadi seorang perempuan. Aku tetap berusaha membunuh itu. Karena kamu selalu menarik ulurnya dengan kadar yg sama. 

Lalu apa lagi yg bs aku lakukan selain membunuh rasa itu. Aku fikir akan gampang jika bertemu, hanya berusaha berpura-pura aku menikmatinya dan memendamnya jauh. Ternyata cinta tidak segampang itu, aku kikuk melihatmu, apalagi saat berusaha menatap wajahmu karena kita sedang berbicara. Aku berusaha mati-matian memandangmu. 

Berusaha menahan getaran" yang ada agar tidak sampai kepada batas maksimalnya.  Aku gagal membunuh rasa itu untukmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja

Doa Berdinding Ratapan

Setiap potong pertemuan.