Setiap potong pertemuan.



Kita tidak pernah benar-benar bertemu berdua mengadakan janji,
selama hampir 4 tahun di masa kuliah ini.
Kita hanya mengandalkan takdir agar dapat bertemu satu dengan yang lain.

Konyol, dulu ketika aku sudah benar tidak akan bertemu lagi denganmu setiap hari di kelas,
aku secara tidak sengaja mengucapkan ketika akan berangkat “ ah aku akan dandan yg cantik,
siapa tau bertemu dengan jodohku” dan aku selalu memikirkan kamu saat mengumpat seperti itu.

Tapi sayangnya ketika aku sedang jelek dan capek,
aku tak sengaja bertemu denganmu. Menurutku ini tidak adil,
tapi memang aku belum berfikir ini akan menjadi serius.

Aku seperti biasa, berjalan narsis dengan teman-teman dari gedung c menuju gerbang depan melewati rerumputan yang banyak di duduki oleh mahasiswa PPBA.
Tak sengaja aku melihatmu, menatapku dengan senyuman tipis tak berarti,
aku membalasnya dengan menunduk.
Aku malu sekali. Kamu membuat debar ini tak henti dalam hitungan menit.

Kita memang tidak pernah benar benar berjanjian untuk bertemu,
bahkan dalam mimpi pun kamu hadir setiap waktu.
Kamu selalu mengejarku setiap malam.
Bukan . . . Bukan . . .
Itu bukan karena aku sempat melihat senyum tipis itu,
tapi hampir setiap hari sebelum aku melihatmu.
Aku tak merisaukan hal ini terlalu dalam,
tapi kamu benar benar mengacaukan fikiranku.
Sampai pada akhirnya kamu pergi untuk study jauh di negeri orang.
Aku tau aku bukan orang penting dalam hidupmu kala itu.
Maka aku tak mendapat pamitan darimu.
Aku melanjutkan hidupku dan kamu melanjutkan hidupmu.

Kita tidak sering kontak, hanya beberapa kali berbasa basi tapi penuh makna menurutku.
Aku berusaha mencari free wifi di kampus untuk melihatmu.
Aaaaah betapa bahagianya kamu disana.

Rindu ini tertahan ribuan kilometer di udara, mengakar dan menjalar dengan hebat.
Tapi aku tak membiarkannya sampai kepadamu.
Karena aku adalah perempuan yang egois.

Ya kita benar-benar tidak pernah berjanji bertemu,
tapi Tuhan selalu saja punya cara untuk memperlihatkan keadaanmu ketika aku sedang rindu.

Satu tahun berlalu . . .

Aku melihatmu kala itu sepulang dari study.
Aku fikir akan berubah semuanya, tapi tidak!
Kamu semakin mendebarkan hatiku.
Luluh menjadi cair seperti tetesan hujan yg begitu lembut menerpa pipi.
Kamu adalah keindahan tiada ucap yg setiap orang tak mampu mendefinisikan.
Hmmmmm aku terpanah melihatmu.

Tapi toh apa sih aku?
Bukan apa-apa dibanding dengan banyak orang dan perempuan di luar sana yg menjadi pendambamu.
Aku cemburu, iya terkadang, tapi aku tahu diri.
Ini sebuah dongeng yang akan menjadi sad ending untuk ku jika kita menjadi sebuah cerita.

Dan nyatanya memang kita tidak benar-benar berjanji untuk bertemu,
tapi Tuhan selalu tau bahwa kamu dan aku sedang dalam keadaan luar biasa merindu.

Bertemu kamu di lift
Hari yang sangat luar biasa . . .
Setelah sekian lama, hampir ribuan jam aku tidak bertemu denganmu.
Lalu berpapasan di lift, dan sekarang benar-benar berpapasan.

Aku tidak dapat mendefinisikannya lagi . . .
Kita sama-sama saling pandang tanpa dapat menyapa satu dengan yang lainnya,
Kita berpapasan, hingga akhirnya aku meninggalkanmu tanpa sempat menoleh kebelakang dan kamu telah hilang dengan lift untuk turun kebawah.
Aku bahagia hari itu, sekedar menatapmu tersenyum sebentar saja,
lalu kemudian beranjak pergi meninggalkanku.

Klunting (suara handphone)
Chat dari kamu untuk menyemangati hari ini agar tetap ceria.
Susah sekali mengekspresikannya, hari ini adalah hari yang bersejarah.
Tapi harusnya aku tau, kenyamanan ini tidak boleh terlalu larut terjadi,
aku tidak biasa bahagia di atas keterpurukan orang lain,
iya dia temanku . . . yang berulang kali bicara tentangmu,
bagaimana aku bisa menjadi sehebat ini dalam berbohong.
Menyembunyikan perasaan ini terhadapmu,
sedangkan ia sedang sangat mengharapkanmu.


Sampai pada akhirnya . . .

Kamu melamarku . . .

I can’t describe my feelings. How happy I am.
And iam the luckiest person in the world.
But I cant, I cant hold your hand.
Aku tidak bisa menjadi bagian darimu,
membangun kehangatan dirumah bersama-sama.

Aku tidak tahu kenapa Tuhan selalu menakdirkan kita dengan berbagai potongan pertemuan yang sangat indah,
dan semoga akan terjawab suatu saat nanti.
Aku pernah takut untuk melepaskanmu, tapi sekarang aku belajar,
untuk melepaskanmu tapi menjagamu melalui doa dengan kadar yang sama setiap harinya.

Karena aku yakin “jika sesuatu sudah ditakdirkan untuk kita,
maka sejauh apapun ia pergi maka akan tetap menjadi milik kita”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja

Doa Berdinding Ratapan