Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Selamat dan Terimakasih

Aku pernah jatuh cinta denganmu dengan tanpa alasan seperti katamu cocok tidak pernah memberi sebuah alasan hanya merasa nyaman ketika dekat dan resah ketika jauh . . . Selamat kita sudah menjadi masing-masing aku yang sempat menjadi cocok lalu pergi menjadi tidak cocok dengan dalih alasan beribu gundah . . . Terimakasih karena pernah menjadi kita meski hanya sementara setidaknya kamu memberi satu warna pada pelangiku dan akan tetap disana entah sampai kapan meski matahari telah terbit dan pelangi hilang dari langit tapi warnamu merona dihatiku menjingga setiap sore menemani senduku . . . sekali lagi selamat dan terimakasih

Jika Kamu Benar-brnar Pergi

Tidak masalah terkait kepergianmu. Atau kepergianku yg mendadak terlebih dahulu. Toh kita tetap berada dipijakan yg sama kan? Berada dibumi yang sama Berada dibawah naungan langit yg sama... Doa tak memiliki benang ataupun ikatan untuk menjaganya tetap sampai. Tapi aku yakin doaku lebih panjang dr benang dan lebih kuat dari ikatan untuk sampai kepadamu. Dibawah langit yg sangat terik siang ini aku lelah tiada tara. Bukan karena kamu yang pergi atau aku yg duluan mengakhiri Tp lebih kepada, ternyata mengikhlaskan tidak semudah orang melontarkan umpatan. Aku memandangi langit siang ini begitu lamat. Seperti beberapa tahun lalu ketika menunggu kamu kembali. Iya dimasa-masa sulit itu.... Ketika aku seorang diri... Tp rasanya sekarang sudah berbeda. Hehe aku tersenyum kecil sambil memandangi awan dibirunya langit itu. Bahkan jika aku sekarang bukan milik siapapun. Apakah mungkin kita bersama?

PERJANJIAN

Bisakah kita membuat perjanjian? Aku akan berhenti melihat last seen di Whatsapp Lalu kamu berhenti hadir dalam mimpiku Mudah bukan? Aku harap ketika aku bertanya tentang “kapan kamu menikah?” Kamu wajib menjawab “tentu saja sudah aku rencanakan dengan baik” Bukan “belum ada yang mau saya nikahi” Jika kamu tahu Sulit membunuh detak yang diam-diam merajai hatiku Begitu sulit mengusir kupu-kupu yang begitu brengsek bersarang didadaku Aku ingin membuat perjanjian denganmu Menikahlah segera!!! Lalu aku akan berusaha memerangi segala ego yang bersarang di hatiku Kuharap ini adil Dan harus kita jalankan Seberapa beratpun itu

Hanya Namanya

Perempuan ini sedang rindu menanyakan kabarmu dengan formal harus mengulang beberapa kali karena tidak memakai perangko rumit sekali bukan? tapi mendapatkan jawaban tentang keadaanmu, itu saja sudah cukup. Perempuan ini yang suka sekali mengintip last seen di Whatsappmu sambil menyimbanberibu pertanyaan, sedang dengan siapakah pemuda itu berbagi cerita. Perempuan ini yang suka sekali menghapus chat lalu mengetiknya lagi kemudian menghapusnya lagi kemudian mengetiknya lagi hingga belasan kali. karena takut mengganggumu. Perempuan ini adalah yang mendoakanmu dikala hujan, mendoakanmu tanpa henti dikala jeda antara adzan dan iqomah, dan mendoakanmu malam hari menjelang ia tertidur. Semua hal yang pemuda itu katakan, nasihat yang pernah pemuda itu sampaikan. Perempuan ini mengingatnya dengan baik, menyusunnya di rak pikirannya dengan rapih. Pemuda itu yang membuatnya selalu rindu,... Kala hujan serta antara adzan dan iqomah. Karena doa yang perempuan ini panjatkan hanyal...

Kamu Berbeda

Bagaimana bisa kamu menjadi alasanku untuk tidak pergi kemana-mana Bahkan begitu banyak hal yang menyenangkan orang lain tawarkan. Tapi kamu menjadi hal yang lebih menarik dari semuanya Aku tidak pernah melihatmu lagi, Melihat kamu tertawa terbahak-bahak Melihat kamu berbicara banyak hal Melihat kamu bersenandung rendah dengan suara fals Aku tidak melihat itu semua darimu Yang seperti orang lain lakukan. Kehidupan yang hingar bingar penuh dengan kemewahan. Kamu berbeda . . . Penuh kelembutan yang tak orang lain mengerti Tak pernah surut untuk tetap berusaha dijalanNYA Terkadang aku membencimu Karena tak menikmati dunia ini dengan semestinya orang. Tapi . . . Disitulah letak keindahannya, Kamu berbeda dari yang lain . . . Iyaa . . . Kamu berbeda . . .

Purnama

Dulu aku sempat mengagumi langit merah di ufuk barat dengan gilanya. Segala kehangatan yang ia berikan . . . Keindahan yang selalu hadir setiap menjelang malam . . . Dia begituu mempesonakan Sampai pada akhirnyaa. . . Aku melihat purnama Cahaya terang diantara gulita yang mengelilinginya Begitu elegan Campuran emas dan hitam yang menjadikan aku lupa akan marunnya . . . Sekarang purnama menjadi alasan aku menunggu… Meski tak setiap malam bertemu tapi ia mengajarkanku Keikhlasan dalam menanti keindahan Keikhlasan dalam menanti sebuah hal indah yg sudah disiapkan… Bulan purnama selalu saja indah dengan kilau yang tak biasa, Meski dingin kadang memecah malam… Tapi setiap orang akan rela menunggu disetiap kejutan keindahannya. Iyaa… Kamu purnamanya . . . Dan kamu alasanku menunggu purnama tiba.

Tidak Akan Pernah Menjadi Hambar

Aku tidak tau kenapa menjadi serumit ini berkisah denganmu. Aku fikir dengan merelakanmu, akan bisa hidup normal dengan sedia kala. Aku fikir dengan mengucapkan itu, akan dapat melupakanmu menjadi jauh lebih mudah. Aku salah . . . Perasaan ini tak pernah menjadi hambar. Entah sampai kapan Yang pasti kamu adalah bumbu yang menjadikan kaldu sup itu sempurna. Hingga sampai saat ini pun, aku menjadi gila karena tak memiliki bumbu itu. Kenapa semua jadi serumit ini? Bisakah aku kembali? Menjadikan semuanya sempurna . . . Haruskah aku mengatakannya lagi? Perasaanku kepadamu tak akan pernah menjadi hambar. Dengan siapapun kamu nanti memilih untuk hidup, Atau dengan siapapun aku nanti ditakdirkan untuk hidup. Aku akan selalu mengingatnya . . . Kamu adalah yang memiliki perasaanku hingga detik ini, dan sampai kapanpun tak akan aku biarkan itu menjadi hambar.

Setiap potong pertemuan.

Kita tidak pernah benar-benar bertemu berdua mengadakan janji, selama hampir 4 tahun di masa kuliah ini. Kita hanya mengandalkan takdir agar dapat bertemu satu dengan yang lain. Konyol, dulu ketika aku sudah benar tidak akan bertemu lagi denganmu setiap hari di kelas, aku secara tidak sengaja mengucapkan ketika akan berangkat “ ah aku akan dandan yg cantik, siapa tau bertemu dengan jodohku” dan aku selalu memikirkan kamu saat mengumpat seperti itu. Tapi sayangnya ketika aku sedang jelek dan capek, aku tak sengaja bertemu denganmu. Menurutku ini tidak adil, tapi memang aku belum berfikir ini akan menjadi serius. Aku seperti biasa, berjalan narsis dengan teman-teman dari gedung c menuju gerbang depan melewati rerumputan yang banyak di duduki oleh mahasiswa PPBA. Tak sengaja aku melihatmu, menatapku dengan senyuman tipis tak berarti, aku membalasnya dengan menunduk. Aku malu sekali. Kamu membuat debar ini tak henti dalam hitungan menit. Kita memang...