Sebait kenangan masa lalu
Mengapa dulu kamu menungguku untuk ketidakjelasan selama beberapa waktu yang lama?
Tentu aku adalah gadis remaja yang masih kesana kemari menikmati hidup.
Mengapa kamu menungguku dengan bodohnya?
Mengapa kamu mau membelikanku jajan yang tidak murah harganya untuk sekali makan, padahal penghasilanmu saat itu bisa dibilang belum mapan.
Aku tau kamu selalu berangkat pagi-pagi buta untuk mengunjungi ku di kota lain membawa rindu itu setelah beberapa bulan tidak bertemu.
Dan pulang larut malam untuk kembali beraktivitas esok harinya dengan rindu yang terbayarkan katamu, meski aku banyakan manyun nya ketika bertemu.
Kenapa kamu melakukan itu?
Apakah seistimewa itu?....
Kamu hebat, bertahun-tahun bisa bertahan dengan kekanakan ku.
Meski jarang bertemu.
Terkadang aku merasa kasihan, karena terlihat ketulusan itu di letihnya penantian yang seperti tak berujung.
Tapi dasar aku perempuan egois, aku tidak peduli.
Dan hanya kamu yang mau bertahan dengan perempuan egois ini.
Yang manjanya minta ampun, yang kekanakannya luar biasa.
Tapi kamu hanya memberi balasan senyum yang utuh menggemaskan.
Ingat tidak waktu kamu mengajakku makan sate dipinggir jalan?...
Haha maafkan aku, ngambeknya keterlaluan.
Aku tidak suka bajuku bau asap sate dan kendaraan.
Akhirnya pertemuan yang berlangsung beberapa jam itu pun tak menjadi berkesan.
Padahal waktu kita tidak banyak kan untuk kembali bertemu lagi bulan depan.
Kamu hebat, bisa bertahan denganku.
Terimakasih sudah menunggu, meski tidak sebentar waktu yang telah terbuang itu. Terimakasih karena sabar menjadi bagian kekonyolan ku saat itu.
Terimakasih telah banyak memberikan sesuatu yang berharga untukku meski tak begitu romantis.
Tapi aku suka...
Tentu aku adalah gadis remaja yang masih kesana kemari menikmati hidup.
Mengapa kamu menungguku dengan bodohnya?
Mengapa kamu mau membelikanku jajan yang tidak murah harganya untuk sekali makan, padahal penghasilanmu saat itu bisa dibilang belum mapan.
Aku tau kamu selalu berangkat pagi-pagi buta untuk mengunjungi ku di kota lain membawa rindu itu setelah beberapa bulan tidak bertemu.
Dan pulang larut malam untuk kembali beraktivitas esok harinya dengan rindu yang terbayarkan katamu, meski aku banyakan manyun nya ketika bertemu.
Kenapa kamu melakukan itu?
Apakah seistimewa itu?....
Kamu hebat, bertahun-tahun bisa bertahan dengan kekanakan ku.
Meski jarang bertemu.
Terkadang aku merasa kasihan, karena terlihat ketulusan itu di letihnya penantian yang seperti tak berujung.
Tapi dasar aku perempuan egois, aku tidak peduli.
Dan hanya kamu yang mau bertahan dengan perempuan egois ini.
Yang manjanya minta ampun, yang kekanakannya luar biasa.
Tapi kamu hanya memberi balasan senyum yang utuh menggemaskan.
Ingat tidak waktu kamu mengajakku makan sate dipinggir jalan?...
Haha maafkan aku, ngambeknya keterlaluan.
Aku tidak suka bajuku bau asap sate dan kendaraan.
Akhirnya pertemuan yang berlangsung beberapa jam itu pun tak menjadi berkesan.
Padahal waktu kita tidak banyak kan untuk kembali bertemu lagi bulan depan.
Kamu hebat, bisa bertahan denganku.
Terimakasih sudah menunggu, meski tidak sebentar waktu yang telah terbuang itu. Terimakasih karena sabar menjadi bagian kekonyolan ku saat itu.
Terimakasih telah banyak memberikan sesuatu yang berharga untukku meski tak begitu romantis.
Tapi aku suka...
Komentar
Posting Komentar