Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Tidak Akan Pernah Menjadi Hambar

Aku tidak tau kenapa menjadi serumit ini berkisah denganmu. Aku fikir dengan merelakanmu, akan bisa hidup normal dengan sedia kala. Aku fikir dengan mengucapkan itu, akan dapat melupakanmu menjadi jauh lebih mudah. Aku salah . . . Perasaan ini tak pernah menjadi hambar. Entah sampai kapan Yang pasti kamu adalah bumbu yang menjadikan kaldu sup itu sempurna. Hingga sampai saat ini pun, aku menjadi gila karena tak memiliki bumbu itu. Kenapa semua jadi serumit ini? Bisakah aku kembali? Menjadikan semuanya sempurna . . . Haruskah aku mengatakannya lagi? Perasaanku kepadamu tak akan pernah menjadi hambar. Dengan siapapun kamu nanti memilih untuk hidup, Atau dengan siapapun aku nanti ditakdirkan untuk hidup. Aku akan selalu mengingatnya . . . Kamu adalah yang memiliki perasaanku hingga detik ini, dan sampai kapanpun tak akan aku biarkan itu menjadi hambar.

Setiap potong pertemuan.

Kita tidak pernah benar-benar bertemu berdua mengadakan janji, selama hampir 4 tahun di masa kuliah ini. Kita hanya mengandalkan takdir agar dapat bertemu satu dengan yang lain. Konyol, dulu ketika aku sudah benar tidak akan bertemu lagi denganmu setiap hari di kelas, aku secara tidak sengaja mengucapkan ketika akan berangkat “ ah aku akan dandan yg cantik, siapa tau bertemu dengan jodohku” dan aku selalu memikirkan kamu saat mengumpat seperti itu. Tapi sayangnya ketika aku sedang jelek dan capek, aku tak sengaja bertemu denganmu. Menurutku ini tidak adil, tapi memang aku belum berfikir ini akan menjadi serius. Aku seperti biasa, berjalan narsis dengan teman-teman dari gedung c menuju gerbang depan melewati rerumputan yang banyak di duduki oleh mahasiswa PPBA. Tak sengaja aku melihatmu, menatapku dengan senyuman tipis tak berarti, aku membalasnya dengan menunduk. Aku malu sekali. Kamu membuat debar ini tak henti dalam hitungan menit. Kita memang...

Baik Saja Tidak Cukup

Aku pernah benar benar merasa bahwa dia adalah yang terbaik. Hingga aku bodoh, lalai dengan semua petuah orang tuaku. Aku pernah benar benar merasa bahwa dia adalah segala hal dalam hidupku, karena dia yang mengajarkanku bernyanyi dan mengeja nama Tuhan dengan syahdu. Hingga pada akhirnya… Aku bertemu dengan orang yang membuat aku nyaman. Aku baru sadar, jika ternyata baik saja tidak cukup, kita butuh orang yang membuat kita nyaman, membuat kita beradu kata menjadi satu pinta yg menggetarkan asa. Aku baru sadar bahwa baik saja tidak cukup. Kita perlu tertawa dan menangis, bercerita tentang cita cita dan asa yang pernah kita miliki. Terkadang kita berfikir bahwa dunia ini kejam, tapi nyatanya jika kalian tau, dunia kejam karena kalian yang membuatnya sendiri. Entah karena ke egoisan, kesombongan, atau ketidaktauan akan suatu permasalahan. Ya… memang aku pernah benar benar merasa bahwa baik saja cukup dalam sebuah hubungan tanpa aku memikirkan bahwa hubun...

Bukan Pilihan

Jangan... Jangan jadikan aku pilihan Hal itu terlalu sulit untuk ku ketika harus menerima kenyataan bahwa bukan aku yang terpilih Tidak semudah aku memandang matahari Meski sinarnya terlalu terik saat siang, aku masih dapat melihatnya dengan kaca mata hitam Belum lagi jika aku harus menerima kenyataan bahwa  aku bukan menjadi pilihan. Memandangmu setiap hari dengan orang lain yang menjadi arti dalam hidupmu Jangan pernah jadikan aku pilihan Karena aku ingin menjadi tujuan Tujuanmu untuk mengajakku beribadah kepadaNya dan menyempurnakan separuh agama kita masing-masing Jadi . . . Jangan jadikan aku pilihan Jadikanlah aku tujuan