Mimpi diujung Senja dusun Banturejo


Aku melihatnya, keindahan bias dari kerajaan sebelah barat. Ia menampakkan dengan sangat manis, menyapaku dengan keanggunan yang luar biasa kidmat. Aku akan mendefinisikannya untuk kalian, ini khusus untuk kalian saja. Ssstttt jangan ramai, dengarkan dengan baik, bayangkan, lalu hayati segalanya. Dia terlihat sangat dekat, belum pernah aku melihatnya sedekat ini. Bulatan besar berwarna merah dilangit yang hampir menggulita. Tapi ia seakan tidak ingin meninggalkanku. Aku berjalan berusaha mengejarnya, tapi perlahan ia turun dengan warna merah yang begitu menakjubkan. Dibarengi angin sore dan suasana desa yang menyenangkan, mungkin aku bahagia. Melihatnya disini bergelayut manja dilangit tercinta. Hay ini aku sang penikmat senja, namaku Berlian sedang berada di desa yang jauh dari dosa, dan memiliki keindahan ujung hari yang luar biasa khidmad. Aku sedang menjalankan program Kuliah Kerja Mahasiswa di desa Bayem dusun Banturejo. Desa ini adalah desa terkhidmad masalah agama, masyarakat yang sangat patuh dengan istiadat agama Islam dan juga khas dengan segala rutinitas agama Islam terutama Nu, bahkan jika kita bertanya apa kah agama didusun ini, semua para ibu-ibu dan bapak-bapak hingga anak, cucu, dan cicitnya akan menjawab serentak “NU”. Dengan latar belakang suasana khas perbukitan atau pegunungan, dusun ini serasa asri dan menakjubkan dikala sore hari.
            Sebenarnya aku tidak terlalu mencintai dusun ini ketika awal mula bersinggah. Aku hanya berharap menjadi bias dari masa lalu para kakak tingkat yang pernah KKM disini, karena aku tak memiliki motivasi sama sekali dengan segala kegiatan yang ada disini. Minggu pertama kami tidak memiliki kegiatan yang berarti, karena kegiatan belum aktif, sehingga kami hanya menyiapkan segala program kerja serta hanya beramah tamah dengan para tetangga. Aku tidak memiliki keahlian dalam beramah tamah kepada semua orang, karena basic dirumah ku adalah wilayah yang hampir menuju pembangunan seperti kota. Sehingga segala yang dilakukan tetangga kita tidak saling peduli. Dan aku belajar dari sini, dengan segala hal yang sederhana tapi menakjubkan serta menentramkan jiwa. Ternyata penting sekali berkomunikasi dengan tetangga, meski hanya bersenda gurau biasa tapi itu sangat menyenangkan dan membuat sedikit beban yang  ada terasa ringan. Lambat laun aku mulai menyukai tempat ini, tempat dimana aku dan teman-temanku serasa menjadi artis dadakan. Kemanapun kami pergi, semua orang akan menegur dan tersenyum. Segala apa yang kami lakukan akan menjadi bahan perbincangan. Aku mulai suka tempat ini, karena memiliki banyak sekali para anak-anak berbilang enam sampai 12 tahunan yang menyambut kami dengan ceria. Dan aku mulai suka dengan tempat ini, karena ia memiliki berjuta mimpi yang tergantung dilangit sore ketika kami mulai berbaur.
            Tidak terasa ini telah seminggu kami berada disini dan siap melakukan kegiatan baru, pembukaan segala kegiatan pun dilakukan. Kami mengikutinya dengan antusias yang sangat hebat. Dihari berikutnya kami melakukan kegiatan mengajar TK kemudian mengajar TPQ dan Madin. Begitu banyak karakter anak-anak yang terbentuk dari desa yang sederhana ini. Aku mulai faham bahwa kegiatanku dan teman-teman satu bulan kedepan hanyalah seperti ini. Lalu aku mempunyai inisiatif agar aku bisa memiliki hal yang berbeda dari orang lain. Aku ingin menyebarkan mimpi disini, mimpi yang mungkin bagi orang-orang diluar desa ini adalah sebuah hal yang tak berguna, sebuah hal yang mampu mereka raih dengan mudah. Tapi ketika aku melihat desa ini semua terasa berbeda, mereka memaknai mimpi layaknya sebuah bongkahan permata indah yang layak untuk diperjuangkan  mendapatkannya. Aku terkesima ketika mereka benar-benar tidak mengerti dunia luar yang penuh dengan keindahan serta banyak hal untuk meraihnya. Setelah itu aku mulai menanamkan sifat menghargai diri sendiri, perlahan aku menyukai mereka yang tadinya aku hanya seorang artis bagi mereka sekarang menjelma menjadi manager handal yang siap mengatur segala tentang mimpi mereka. Aku tidak pernah memaksakan apa saja mimpi mereka, selagi itu baik dan dapat diterima oleh diri sendiri “Why not” semua akan berjalan seperti semilir angin, dengan hembusan yang lembut dan menenangkan tapi ia merasuk menjadi sebuah energi yang kuat untuk mengalahkan dunia.
“Mimpi itu sebuah fantasi yang akan membawa segenap dari hati, fikiran dan jiwa berhenti sejenak untuk berfikir lebih rileks dan santai. Tahukah kau, banyak sekali manfaat dari mimpi. Jika kau percaya mimpimu adalah hal yang patut untuk diperjuangkan dan didapatkan. Maka jangan berhenti untuk bermimpi. Bahkan kau bisa berhenti saja sejenak dari aktivitasmu untuk tenang sejenak dan memikirkan segala mimpimu. Hanya karena kau punya mimpi saja, maka Tuhan akan segera menengokmu dan percaya saja Dia akan membantumu dengan segala urusan. Semua akan berjalan seakan kau melayang dan dituntun menuju ke kehidupan yang kau impikan. Itu akan mudah jika kau menghargai mimpimu sendiri dan ada sedikit niat untuk mewujudkannya. Percayalah dan yakin bahwa mimpi itu tak sesepele yang kau bayangkan, karena hanya dengan mimpi segala hal yang jauh terasa dekat, serta yang sulit akan  menjadi mudah. Maka berusahalah selalu mempunyai mimpi, entah setinggi apapun itu.”
Kata-kata itu selalu menjadi tombak ketika berhadapan dengan mereka, aku selalu berharap tombak itu tidak hanya terlihat dimata tetapi juga akan mengena kehati, menancap disana lalu mengakar dan tumbuh subur menjadi sebuah pohon besar dalam hati yang nantinya akan menjadi penopang kala mereka haus akan motivasi. Ketika aku melihat mata-mata berbinar itu, aku mulai yakin mereka mempunyai mimpi sekarang. Aku senang ketika mereka mulai mendengarkanku bercerita dengan mata berbinar lalu terkadang bertanya tentang kehidupan luar yang tak mereka tahu. Aku ingin mereka keluar dari tempat ini, melihat hal yang indah dan mimpi-mimpi orang lain yang indah diluar sana. Aku merasakan getaran yang luar biasa kala mereka mulai mempunyai mimpi, bahkan aku mengajari mereka menyusun sebuah mind map untuk mimpi mereka sendiri. Dimulai dari “this is me” dengan gambar wajah mereka ditengah sebuah kertas putih kosong lalu mereka boleh membuat cabang dimana saja yang mereka suka untuk membuka mimpinya. Dari situ mulailah coretan-coretan penuh makna itu tertoreh satu demi satu. Mereka lucu sekali, tapi mimpi mereka tidak selucu itu, aku melihatnya ada keyakinan yang kuat dari dalam diri mereka untuk mewujudkan mimpi. Kenapa aku bisa menyimpulkan seperti itu? Karena semua itu terbukti dengan semangat mereka belajar, dan ingin sekali mengetahui banyak hal setelah aku menunjukkan sebuah mimpi itu. Setelah mereka selesai membuat cabang-cabang yang Insya Allah suatu saat nanti akan terwujud itu, aku menyuruhnya untuk menghias dengan segala hal yang mereka suka semenarik mungkin, “kemudian tempelkan kertas itu dikamar kalian masing-masing yang sekiranya ketika kalian pergi tidur dan bangun tidur kalian bisa melihatnya dan memikirkan hal ajaib itu”. ujarku…
            Aku tidak main-main akan hal ini, aku merasakan kedahsyatan yang luar biasa, entah kenapa serasa aku baru menorehkan tinta emas dalam diri mereka, entah mereka memaknainya apa yang pasti aku selalu berdoa untuk kesuksesan mimpi itu. Aku tidak berdoa untuk diriku sendiri semenjak itu, aku ingin mereka sukses, entah mereka akan mengingatku atau tidak aku tidak peduli sama sekali yang pasti aku ingin menorehkan mimpi. Karena jika kalian tahu, getaran yang ada dalam hati melihat mata yang berbinar penuh harapan itu serasa surga bagiku, serasa aku adalah seseorang yang paling bahagia ketika mereka sukses kelak. Dan sekarang aku bukan hanya sekedar menyukai mereka tapi aku mencintainya, lebih dari aku mencintai segala hal yang aku banggakan dalam diriku dahulu, aku mulai lupa segala rutinitasku yang penuh dengan duniawi dan bisa dibilang gemerlap kota. Aku mulai mencintai mereka. Aku mulai menuntunnya perlahan menuju hal-hal yang positif setelah aku mendapatkan hati mereka dari ocehan sebuah mimpi, sekarang ketika aku masuk kedalam kelas mereka menyambutku dengan ceria dan tidak sabar mendengarkanku cerita. Entah itu pengalamanku sendiri atau pengalaman orang lain. Dan juga aku tidak lupa untuk selalu membuka pelajaran di kelas dengan kata-kata mutiara motivasi dalam bahasa arab, aku menerapkan mereka harus menulisnya tiga kali lalu membacanya dengan kencang dan bersama-sama tiga kali juga. Karena aku ingin kata-kata motivasi ini pembuka hati mereka dalam memulai pembelajaran.
            “Duapuluh hari lagi” aku ingin pulang. Mengejar mimpi yang tertinggal, mengejar matahari sore yang terabaikan. Dibawah kaki gunung ini aku menulis mimpi. Mimpi baru yang muncul ketika melihat tawa kecil penuh girang. Melihat mata binar ketika aku datang. Aku ingin menyebarkan mimpi dipelosok negeri, aku ingin pulang dan memulainya didesaku sendiri. Desa yang telah lama aku tinggalkan tanpa pengabdian. Desa yang membentuk karakterku hingga seperti ini, tanpa peraduan. Aku ingin terus melihat senja, membawanya kemanapun aku pergi. Melihatnya kapanpun aku sedih, mengajaknya bergurau saat aku sedang senang. Aku ingin sesemangat sinarnya sesedih kala ia mulai tengelam. Aku ingin pulang, mengenang dan mewujudkan mimpi-mimpi baru dari mata yang berbinar”. Entah kenapa aku ingin pulang, serasa rindu sekali dengan suasana rumah dan desaku, yang selama  ini telah memberikanku makna banyak hal baik itu tersirat atau tersurat. Aku rindu teman-teman masa kecilku ketika aku melihat mereka bermain tanpa memandang waktu.
            Sepuluh hari lagi masa ku akan habis disini, mengabdi dengan setulus hati. Dan sepuluh hari lagi aku akan pergi dari sini, tempat yang tak begitu indah tapi mengisahkan banyak kenangan dan mimpi. Dari sini mungkin pemikiranku akan berbeda. Bahwa ketika ingin dihargai maka harus menghargai orang lain. Aku tidak tahu, yang aku tahu setiap hari aku mengajarkan satu kalimat mutiara pembangkit mimpi. Entah itu diterima atau tidak, aku ingin mereka meminum pil itu (diibaratkan). Karena aku ingin melihat mereka mempunyai mimpi. Ingin melihat mereka sukses dengan mimpi-mimpinya. Aku hanya seorang calon sarajana psikologi, penumbuh semangat baru kala orang sedang jatuh. Aku hanya seorang calon sarjana psikologi, penumbuh mimpi dari hancurnya sebuah jiwa. Aku tidak berharap jadi psikolog yang hebat. Aku hanya ingin semua yang aku ucapkan itu baik dan akan diterima oleh mereka yang mendengarkan.
“kata Abi hijrah itu penawar, tidaklah Allah menghilangkan sesuatu daripada dirimu. Kecuali karena Dia hendak menggantinya dengan yang lebih baik untukmu” ucapku pada sore yang terik itu, senja kala itu menemani hari terakhirku mengajar, aku menjelaskan sebuah materi hijrah. “Jadi ketika kalian berhijrah Allah akan mendatangkan kebaikan untukmu dan Insya Allah menjadi penawar sebuah sakit hati. Jadi saya disini berhijrah dari satu tempat mencari ilmu ketempat lain, dari sini mungkin saya nanti juga akan berhijrah lagi untuk mencari ilmu. Doakan supaya saya mampu mengejar mimpi seperti kalian yang semangat mengejarnya”. Tidak terasa salah satu santri laki-laki yang cukup cerdas dalam kelas menangis, maju kedepan kelas dan memelukku. Aku spontan kaget, dia memelukku erat sekali, dia bilang ingin seperti saya, dia bilang ingin menggapai semua mimpinya dan berhijrah untuk mencari ilmu. Ya Allah begitu dahsyatnya kah kekuatan kata-kata ini sehingga mereka buncah meneteskan air mata. Aku menahannya memeluknya juga erat lalu membisikkannya sesuatu “Ustdzah yakin kamu bisa, semua orang berhak punya mimpi, dan kamu harus mewujudkannya, ayo duduk dulu” sambil tersenyum dia menurutiku. Senja sudah perlahan turun menuju gelap, mendesakku untuk mengakhiri pertemuan itu. Aku pun pulang dan mereka semua memelukku erat sekali, menggiring aku kerumah warga yang aku tempati, disana sudah banyak sekali anak-anak yang lain. Selesai sholat berjamaah kita semua berkumpul di teras rumah. Mereka memberikan cindera mata yang lucu sekali, tidak mahal dan bahkan itu kampungan sekali, tapi entah kenapa aku menyukainya. Melihat mereka tersenyum serasa bahagia buatku. Aku menyadari bahwa ini adalah malam terakhirku disini. Melihat mereka bercerita banyak hal membuatku ingin menangis, aku bahkan akan sangat merindukan mereka. Segala mimpi yang aku sematkan didalam diri mereka serasa bersinar menyinari malam terakhir kita.
            Keesokan harinya aku dan teman-teman bersiap untuk berangkat meninggalkan dusun itu, dusun yang menyimpan sejuta mimpi yang tersemat dalam anak-anak disana. Aku mencintai mereka, sangat mencintai mereka. “Ustadzah aku pingin jadi koyok Samean, bisa ke Malang nanti lihat sekolahannya yang besar” seorang anak perempuan memotong lamunanku. Entahlah aku berhasil atau tidak dalam hal ini, yang pasti dulu mereka tidak mempunyai keinginan sama sekali untuk melihat dunia luar dan memiliki mimpi, tapi sekarang mereka menunjukkan progress yang sangat baik. “Inggih Ustadzah, tiap hari loh aku lihat kertasnya sama bayangin gimana sekolahnya Ustadzah”. Buncah sudah aku mendengar celoteh mereka, tak dapat menahan bendungan air mata ini. Aku memeluk mereka semua, tanpa bisa berkata lagi. Mereka telah mempunyai mimpi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja

Doa Berdinding Ratapan

Setiap potong pertemuan.