Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2024

Surat untuk Tuan

Tuan aku tau hidupmu bukan hanya tentang aku Bolehkah aku meminta sedikit waktumu Bukan untukku saja tp untuk kita Kasih sayangmu berjarak Bahkan untuk menyebutmu prioritas saja aku tak berani Karena baktimu memang bukan aku Tapi bisakah perhatian itu untukku Karena tak secuil janji pun ada di tengah gelap gulita cinta Perjanjian yang kau buat pun tak pernah tertunai Aku ingin kamu, aku harap kamu pun begitu Nyatanya tak ada sedikitpun gejolak itu Aku hanya bayangan jauh yang kau simpan hingga usang.  Entah sampai kapan

Tidak Ada Yang Jahat

Aku meninggalkan segalanya Segala hal yang aku perjuangkan dengan tidak percuma Aku merelakan segala hal yang telah susah payah aku bangun Memulainya semua dari awal Memastikan semua baik-baik saja dari nol Tidak ada yang jahat. . .  hanya aku yang harus kuat Jalan tak selalu mulus. Jalan tak selalu aspal Namun jalanku tak selamanya makadam Berusaha percaya, tapi aku pernah terluka Berusaha yakin, Tuhan membersamai langkah Semoga yang selalu disemogakan

Senja

Bahkan untuk menikmati senja yang indah Butuh langit yang berawan Begitu halnya mendapatkan kamu Karena kamu senja yang paling aku kagumi Diantara langit lainnya Sayangnya masih tertutup awan Dan sialnya aku menunggu kamu tak sendirian

Terimakasih Juli

Juli ku tutup dengan kemarahan Ketidaknyamanan yang masih aku peluk hingga sekarang Juli mengajarkan ku dewasa Ketika pengabdian tak menjadi tombak Yang bersikeras baik Tapi tetap tidak akan terlihat Terimakasih juliku yang berdarah tanpa luka Terimakasih juliku yang menjadi jerit tanpa suara

Antagonis

Ucapannya benar-benar menyakiti Menguliti setiap luka yang hampir sembuh Mengulik lagi kisah yang tak pernah ada Tapi menjadi ada ketika kuasa adalah segala Aku hanyalah hamba Yang tak pernah penting kehadirannya Yang tak pernah nampak kebaikannya Setitik itu akan menjadi perusak candinya yang megah Kata tak akan lagi salah Jika yang berkuasa yang berbicara Cara ampuh hanyalah bertapa Dalam diam dan dahaga Menyemogakan Tuhan yang berbicara

Kamu dan Bandung

Dan. . .  Ternyata udah ga lagi bersama ya Aku terkadang suka lupa Ketika melewati jalanan kota Bandung Yang di iringi rintik hujan disetiap lampu jalan Bayangan mu menang di ingatan Tapi bukan Bandungnya yang salah Atau suasana hujannya Tapi kenangan itu ada disetiap sudut kota.  Ternyata sebanyak itu ya momennya Hingga setiap aku ke tempat-tempat di Bandung Ingetnya kamu. . . Maaf ya aku curang, karena rindu sendirian Dan mengenang ini sendirian Hey kamu apa kabar?

Akan Aku Pastikan

 Akan aku pastikan Aku akan menjadi penyesalan paling mematikan untuk mu Menjadi seorang yang paling berat untuk kamu lupakan Siapa suruh hadirmu melebihi ekspektasi Kenanganku akan menjadi sebuah candu yang tak akan hilang dan lekang oleh waktu

Doa Berdinding Ratapan

 Aku merapal doa paling tulus di penghujung tahun Menunggu jawaban di sudut ruangan putih berdinding ratapan Tak ada orang bahagia disini Hanya lelah yang tergolong indah  karena ratapan paling sempurna kekhusyukannya Gemelutuk tasbih berlomba dengan hati Menyambut sang doa untuk di ijabahi Masihkah angkuh? Jika sekelas ini saja kau masih meminta belas kasih Tuhan untuk meraih tangan

Mari Berjuang

 Mari kita berjuang untuk suatu hal sepele yang di syukuri Berjuang untuk suatu hal konyol tapi masih dalam batas wajar.  Hidup memang lebih berat untuk orang yang mentalnya sering merapa tapi yakinlah kamu hebat kamu kuat dan kamu berhak diantara kegembiraan

Ilusi Renjana

 Aku berhembus melewati bumantara (angkasa)  Melewati bianglala ananta (tak terhingga)  Membunuh renjana(rindu) yang amerta(abadi) Tapi tawamu bagai indurasmi (sinar bulan)  Melesat seperti pawana(angin) menuju relung hati Membuat pertahanan menjadi sebuah ilusi

Belajar Bilang Tidak

 Seumur hidup itu terlalu lama Ya. . .  Seumur hidup itu terlalu lama untuk menjadi orang lain Seumur hidup itu terlalu lama untuk selalu bilang iya pada orang lain Seumur hidup itu terlalu lama loh untuk merubah dunia yang semakin tak terduga arahnya Heey kamu bukan malaikat . . .  Jadi untuk sekedar bilang enggak itu tak masalah Atau sekedar bilang "nanti aja ya aku capek" Gppa kok. . .  Semua orang berhak atas dirinya sendiri.  Jangan terlalu overthinking ya...  Kesehatan mu juga penting Dan kebahagiaan mu juga lebih penting dari bacot mereka yang ga pernah tau rasanya berterima kasih Belajar bilang enggak ya mulai dari sekarang

Cinta Pertama

 Menatap kebelakang Melihat kesunyian efemeral Merangkai ilusi yang telah menjadi gamang Gelebah itu cukup untuk mengenang yang pernah jadi bagian dari diri meski setitik Bukan belajar mengolah perasaan, tapi memang aku yang keterlaluan Mempermainkan tanpa melihat bagian tertulus dari sebuah cinta pertama Diri semakin jauh, tak kenal, bahkan tak saling bertegur Boleh kah mengulang? Sedikit masa kecil itu menjadi rangkaian sebuah peristiwa agar terselesaikan. Perasaan mu perasaanku perasaan kita