Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Purnama telah kembali

Selamat Selamat untuk kamu... Yang sedang berbahagia menempuh hidup baru. Aku turut bahagia, kamu menemukan lagi sepotong purnama itu, yang sempat aku bawa pergi kemudian kamu mencari pengganti. Selamat sekali lagi, aku tidak pandai mengungkap rasa ini. Tapi jujur dari dalam hati. Aku berbahagia... Melihat senyum merekah tanda kamu suka. Melihat gandengan tangan mesrah tanda kamu sumringah. Tiada lagi yang berbahagia... Selain melihat kamu menemukan penamat rindu kala sendu Pengobat hati kala letih Bulan telah utuh kembali, tiada purnama yang terpotong karena ulah ke egoisan ini... Aku mendoakan mu selalu Sekali lagi selamat...

Setidaknya

Aku tau, semua yang telah menjadi kenangan itu Tidak akan pernah mudah untuk dilupakan Tidak peduli kenangan itu bahagia atau sakit. Aku menikmati proses ini detik per detik, menit demi menit. Aku tidak berusaha melupakannya... Sengaja.... Ya memang aku sengaja Karena banyak pepatah mengatakan. Jika luka, semakin kau melupakannya akan semakin sakit, dan anehnya. Jika bahagia, semakin kau melupakannya akan lebih sakit. Jadi aku akan menikmatinya dengan kedamaian ini. Berusaha terbang lagi, meski sayapku tak sempurna. Aku yakin kamu akan bahagia, meski sama-sama merasakan luka yang begitu dalam. Karena sayapmu lebih baik dariku. Memang terkadang jika difikir, kenapa Tuhan tidak pernah adil. Memisahkan 2 orang yang berbahagia tanpa alasan. Hukun alam memang rumit, tidak ada 1 makhluk pun yang mengetahui. Setidaknya, terimakasih kamu pernah merayuku, dengan rayuan payah yang tak bermakna tapi aku suka. Terimakasih . . . Rayuanmu membungkus luka uni menjadi tetap ut...

Harusnya

 Tidak sebahagia yg kamu fikirkan. Aku menderita disini, berharap pagi segera datang dan malam segera berlalu. Begitu setiap hari aku menunggu ajalku. Jika kamu tanya apa aku bahagia? Dengan tegas akan aku bilang tidak!!! Aku hanya menunggu ajal disini. Sembari mencari bekal untukku di akhirat nanti. Aku bagai mayat hidup, kesana kemari tanpa pijakan. Linglung dengan segala kebodohanku sendiri. Katanya semua akan baik" saja. Tapi sebaik apapun itu jika disini aku lebih memilih pergi. Harusnya . . . Ya harusnya aku pergi, berlari sekencang mungkin, menerabas angin sekuat yang aku bisa. Tapi entahlah, aku tidak berdaya. Karena aku perempuan, dan duniaku dibatasi oleh aturan-aturan. Aku menyesal.